Two People (part 3)

tp-5

Story by Dixsy

Starring :

Im Yoona

Lee Jonghyun

**

Sometimes, this roads seems far away

And tears flowing from my cold heart

When all of everything becomes memories

We, two people, will be shelter for each other

**

Yoona memasuki sebuah rumah elite di kawasan Hannam-dong. Rumah itu dari luar tampak tidak terlalu besar, tapi memiliki nilai seni yang tinggi. Dindingnya dibuat mengikuti gaya Yunani Kuno yang sangat unik jika dipandang serta memiliki warna yang sangat klasik sehingga dapat menghipnotis mata siapa saja yang berkunjung ke sana. Jarang sekali ada rumah seperti ini, pikir Yoona. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya kedalam rumah.

Seorang ahjumma yang sangat ia ketahui menyambutnya dengan senyuman dan mempersilahkannya menunggu si empunya rumah datang. “Nona, silahkan tunggu di dalam saja. Sebentar lagi Nona Muda akan sampai..”

“Nde ahjumma, gwenchana. Anak itu tadi sudah mengabariku,” Yoona kembali tersenyum kepada ahjumma yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah ini. Ia ingat pertama kali mengunjungi rumah ini, rambut Kim Ahjumma –yang biasa dipanggil oleh sepupunya– tidak seputih sekarang. Dari dulu sampai sekarang Kim Ahjumma tetap baik kepada siapapun juga.

Gadis itu mulai memasuki ruang tengah dan duduk disalah satu sofa berwarna cream yang diposisikan sedemikian rupa sehingga membuat ruangan itu tampak lebih indah. Kepalanya sangat pening kali itu, ia teringat dengan apa yang dilihatnya barusan. Suaminya bermesraan dengan gadis lain. Hal tersebut menimbulkan banyak pertanyaan di kepalanya. Apakah gadis itu adalah kekasih Jonghyun? Bagaimana jika orang-orang yang dikenal ayahnya atau ayah Jonghyun melihat itu? Bagaimana jika teman-temannya atau kerabat dekat mereka tahu? Apa yang harus ia lakukan? Gadis itu memijat kepalanya.

“Eonni!!!” teriak seorang gadis yang tiba-tiba saja duduk disebelahnya. Yoona terlonjak kaget lantas menolehkan kepalanya ke gadis itu yang mulai memasang tampang sebalnya. “Apa yang kau pikirkan sehingga mengabaikan kedatanganku? Heung menyebalkan.”

“Cih.. salahmu sendiri kenapa datangnya lama,” Yoona mencibir melihat tingkah kekanakan adiknya.

Kang Sura, gadis itu kemudian menatap Yoona dengan tampang bingungnya. “Eonni, kenapa eonni ada disini? Seharusnya eonni sekarang bulan madu bersama suamimu?”

Seketika pertanyaan itu menohok hatinya. Seharusnya memang setelah menikah mereka berbulan madu kemudian hidup layaknya sepasang suami istri yang seharusnya. Tapi kenapa sekarang ia ada disini? Menemui sepupunya, dan malah bukannya bermanja-manjaan dengan suaminya dirumah.

Seolah mengerti raut wajah kakak sepupunya yang berubah, ia mengerti jika pernikahan Yoona bukanlah sebuah pernikahan yang dapat membuat kakak sepupunya itu bahagia, tapi justru membuat kakak sepupunya itu merasakan sedih. Kemudian ia menggenggam tangan Yoona.

“Eonni, ceritakan padaku apa yang terjadi dengan pernikahanmu? Apa Jonghyun~ssi melukaimu?”

Yoona tersenyum berusaha menutupi pernikahan yang tak wajar baginya, “Ani. Jonghyun~ssi sangat baik padaku, mana mungkin ia menyakitiku. Jika ia berani menyakitiku, aku pasti akan melaporkannya pada appa.” Bohongnya. Tentu Jonghyun sangat melukai perasaannya sejak kemarin.

Sura masih berusaha menebak, tapi ia berusaha percaya kepada Yoona. “Arra, kau juga harus melaporkannya padaku. Kau tau kan siapa aku, eonni?”

Yoona kembali mencibir melihat tingkah narsis adiknya itu. Kemudian mereka tertawa bersama, berbincang tentang hal-hal konyol, dan seketika Yoona bisa melupakan kejadian yang ia lihat tadi. Jonghyun bersama dengan kekasihnya.

-TP-

Beberapa hari setelah kejadian dimana Yoona melihat suaminya bersama dengan gadis lain, ia berusaha untuk tidak bertanya secara langsung kepada Jonghyun. Menurutnya hal itu hanya akan menimbulkan masalah baru yang nantinya akan membuat hubungannya dengan Jonghyun semakin jauh.

Seperti pagi-pagi biasanya, gadis itu berkutat dengan alat-alat masak di dapur dibantu oleh kepala koki rumahnya bersama Jonghyun. Ia sebenarnya tidak hanya memasak untuk Jonghyun, tetapi juga untuk pelayan dirumah ini karena selama ia menikah dengan Jonghyun, hanya pelayan-pelayan dirumah ini yang dapat diajaknya untuk berinteraksi dan mereka sangat baik kepada Yoona. Dia sendiri bahkan sudah menganggap pelayan dirumah ini sebagai keluarganya.

Tanpa dirinya sadari, ternyata Jonghyun sedang menghampirinya walaupun ia hanya duduk di meja makan dengan raut wajah yang malas untuk melihat Yoona. Kepala koki atau biasanya Yoona memanggilnya Han Ahjumma, membungkukkan badannya sedikit kepada Jonghyun yang akhirnya disadari oleh Yoona. Gadis itu kemudian mengelap tangannya dan menyuruh Bibi Kim untuk lanjut memasak, sedangkan ia menghampiri Jonghyun. Duduk disebrang kursi Jonghyun.

“Kau belum berangkat?” tanya Yoona.

Jonghyun menghela nafasnya, “Aku hanya ingin memberi tahumu, kita diundang Appa makan malam.”

“Hari ini?”

“Ya.” Nada lelaki itu begitu dingin membuat Yoona mengatupkan mulutnya. Sebenarnya Yoona adalah tipe wanita yang banyak bicara, dalam artian ia memang periang dan senang sekali membuat percakapan yang membuat orang-orang sangat menyayanginya. Tapi dengan Jonghyun, ia tidak bisa. Menurutnya, hati Jonghyun sudah sangat tertutup dan susah untuk diketuknya.

“Baiklah nanti aku akan menyusulmu,” jawab Yoona dengan menundukkan kepalanya.

“Tidak. Aku akan menjemputmu.” Perkataan Jonghyun tersebut membuat gadis itu terkejut. Jonghyun akan menjemputnya? Apakah ia bermimpi? pikirnya.

“Aku menjemputmu karena aku tidak ingin orang tua kita curiga,” lanjut pria itu yang membuat Yoona meremas roknya. Membuat orang tua mereka curiga. Ya, hanya itu alasan Jonghyun menjemputnya nanti, maka ia tidak boleh berharap Jonghyun berbaik hati padanya. “Aku akan menjemputmu pukul tujuh, kau jangan terlalu lama karena aku tidak suka menunggu,” ucap pria dingin itu kemudian segera meninggalkan Yoona dengan pakaian kerjanya.

Yoona hanya bisa melihat punggung tegak itu berjalan menjauh darinya. Entah apa yang ada dipikirannya, ia membayangkan jika pria itu mengecup keningnya sebelum berangkat kerja sebagai seorang suami. Tapi dengan segera ia menggelengkan kepalanya kemudian berusaha untuk menghapus pikiran semacam itu. Ingat Im Yoona, dia memiliki kekasih dan kalian sepasang suami istri hanyalah status karena mungkin beberapa bulan lagi ia menceraikanmu, batin gadis itu berbicara. Raut sedihnya mulai terlihat jelas. Tidak dapat ia pungkiri jika ia ingin memiliki Jonghyun. Bukan, bukan karena ia jatuh cinta pada pria itu. Tapi memang karena Jonghyun adalah laki-laki yang sudah meminangnya dan ia ingin menikah hanya sekali dalam hidupnya.

-TP-

Sekitar pukul setengah tujuh malam, Yoona sedang merapikan dress berwarna peach diatas lutut yang begitu pas di badan langsingnya. Gadis itu begitu cantik, mungkin jika ada laki-laki yang kini sedang melihatnya kini maka laki-laki itu akan terhipnotis oleh kecantikan yang Yoona miliki.

Klakson mobil sudah terdengar dari luar yang berarti pula Jonghyun sudah menunggunya di depan rumah. Ia segera keluar dari kamarnya dan menghampiri Jonghyun.

“Aku sudah bilang kan, jika aku tidak suka menunggu lama?” tanya Jonghyun dengan nada ketusnya.

“Maaf..” hanya itu yang keluar dari mulut Yoona, ia tidak tahu apa kesalahannya. Padahal jika dipikir-pikir Yoona tidak telat sama sekali. Ia menghampiri Jonghyun yang sudah ada di dalam mobil pun tepat pada pukul tujuh bahkan kurang dari pukul tujuh.

Selama di perjalanan baik Yoona maupun Jonghyun sama sekali tidak ada yang membuka mulut mereka. Yoona hanya melihat ke jendela disebelahnya, sedangkan Jonghyun sibuk menyetir. Dua-duanya benar-benar diam tak ada yang mau membuka suara duluan. Helaan nafas Jonghyun terdengar.

“Aku tidak ingin melihatmu diam seperti ini didepan Appa dan Eomma, kau dengar?”

Yoona menoleh kearah suara suaminya, ia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti walaupun ia tidak suka dengan nada bicara Jonghyun.

“Jonghyun~ssi.. apakah aku boleh bertanya sesuatu?”

Jonghyun melirik sekilas kemudian ia kembali fokus menyetir. “Tanyakanlah.”

Yoona sempat berpikir sejenak. Sebenarnya ia takut untuk menanyakan ini, tapi hatinya tidak bisa berbohong untuk berpura-pura untuk tidak mengetahuinya. Ia butuh jawaban Jonghyun agar hatinya tenang.

“Waktu itu aku melihatmu bersama seorang gadis,” tenggorokan Yoona tercekat. Ia mencoba untuk melihat reaksi Jonghyun yang terlihat sangat datar. “Apakah ia kekasihmu?” Yoona menggigit bibir bawahnya.

Jonghyun masih dalam fokusnya untuk menyetir. “Ya, dia gadisku dan aku miliknya.” Hanya kata itu yang dapat Yoona dengar. Terdengar seperti sebuah pernyataan yang tegas dari mulut Jonghyun untuk memperingati Yoona. “Dan kuperingatkan. Jangan pernah kau mengadu pada Appa atau Eomma karena itu akan mengganggu gadisku. Kau mengerti?”

Yoona melihat ada kilatan tak suka dari mata Jonghyun. Kembali Yoona hanya bisa mengatupkan bibirnya. Ia tidak tahu kapan ini semua akan berakhir. Demi apapun ia tidak suka di duakan tapi ia juga tidak suka dengan perceraian jika seandainya pun Jonghyun menceraikannya, walaupun ia tidak mencintai Jonghyun tapi ia hanya ingin menikah sekali seumur hidupnya, hanya itu yang selalu ia ucapkan dalam hatinya.

-TP-

Mereka berdua sudah sampai dikediaman Keluarga Lee. Sambutan hangat untuk Yoona ketika ia melangkahkan kakinya kedalam rumah itu. Bagaimana dengan Jonghyun? Tentu saja ia mencoba berperan sebagai suami yang baik. Pria itu merangkul pinggul Yoona yang berjalan disampingnya dan berusaha tersenyum.

Sedangkan Yoona? Dengan mati-matian ia menghilangkan perasaan gugupnya ketika pria itu merangkul salah satu bagian dari tubuhnya, yaitu pinggulnya. Ini adalah pertama kali Jonghyun bersikap seperti itu kepadanya.

“Aigoo.. kalian sudah sampai ternyata. Eomma sangat merindukan kalian,” ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu mertua Yoona. Wanita itu dengan nurani keibuannya memeluk Yoona dengan hangat dan kemudian memeluk putranya sendiri. “Ayo kita masuk, Appa kalian sudah menunggu di dalam.” Ujar wanita paruh baya itu dengan nada yang lembut.

Ibu Jonghyun merangkul Yoona masuk kedalam rumah, ia sangat menyayangi Yoona karena telah mengenal gadis itu sedari Yoona kecil. Menurutnya Yoona adalah calon istri yang cocok untuk menghadapi sikap dingin Jonghyun. Jonghyun hanya mengikuti dua wanita itu dari belakang, ia mengharapkan jika gadis yang dirangkul ibunya sekarang adalah Seungyeon, kekasihnya. Tapi kedua orang tuanya tidak setuju dengan hubungan mereka.

Dimeja makan, Tuan Lee sudah duduk dengan gagahnya menunggu mereka. Tak hanya Tuan Lee, tetapi disana juga ada sahabat-sahabat Jonghyun seperti Kyuhyun, Changmin dan Minho. Maklum saja mereka diundang karena Tuan Lee sudah menganggap mereka semua seperti anaknya.

“Wah ternyata istrimu sangat cantik, hyung,” ucap Minho salah satu temannya yang paling kecil diantara mereka semua.

“Kau jangan sekali-sekali menggoda menantuku anak muda. Kalau tidak mertuanya akan marah,” ucap Changmin yang saat itu duduk disebelah Minho, pria itu juga tak luput menjewer kuping anak nakal itu.

Gelak tawa memenuhi ruang makan, terkecuali Jonghyun dan Yoona yang terlihat pipinya merah. Ia duduk disebelah Jonghyun. Kepalanya hanya menunduk malu.

“Kalian benar-benar terlihat seperti seorang ahjussi-ahjussi tak laku, apakah aku harus mencarikan gadis cantik seperti menantuku untuk kalian?” kali ini suara Tuan Lee yang membuat ruangan itu ramai akan suara tawa mereka. “Kyuhyun~ah.. setelah Jonghyun seharusnya kau menikah,” kata-kata Tuan Lee tersebut membuat Kyuhyun yang sedari tadi hanya tersenyum kemudian tertawa renyah.

“Setelah kau mencarikan aku seorang gadis cantik tentunya aboeji..” kata Kyuhyun dengan candaannya.

Celetukan-celetukan konyol selalu terucap dari bibir tiga orang itu. Yoona hanya menatap mereka dengan tawanya yang juga tak luput. Menurutnya mereka bertiga begitu berbeda dengan Jonghyun. Jonghyun hanya menyauti sahabat-sahabatnya sesekali. Sedangkan Tuan Lee selalu memberikan petuah-petuah yang membuat sahabat-sahabat Jonghyun merajuk.

“Ah Noona, apakah kau dan Hyung sudah melakukan program membuat anak? Aku yakin jika kalian mempunyai anak pasti anaknya akan lebih mirip Noona.”

Pertanyaan Minho itu membuat Jonghyun dan Yoona sama-sama tersedak. Nyonya Lee segera memberikan minum kepada keduanya.

“Yak! Pertanyaan macam apa itu. Kau aish jinjja!” Jonghyun menatap Minho dengan sebal. Yoona hanya tersenyum malu dengan pertanyaan Minho.

“Aku yakin sebentar lagi aku akan mempunyai cucu, benar kan Jonghyun~ah?” tanya Tuan Lee.

Jonghyun menatap Tuan Lee dengan tatapan merajuknya, “Appa bahkan aku dan Yoona masih terlalu muda untuk mempunyai anak.”

Itu adalah alasan Lee Jonghyun. Kyuhyun dapat melihat gelagat Jonghyun itu. Ia yang paling mengerti Jonghyun jika pria itu menyukai gadis lain yang bukan istrinya. Kemudian Kyunyun juga bisa melihat tatapan mata Yoona yang sulit untuk diartikannya. Tunggu.. Ia seperti pernah bertemu dengan gadis yang kini menjadi istri Jonghyun. Tapi Kyuhyun lupa dimana ia pernah bertemu dengan Yoona.

To be continue…

**

Hi readers!!

I wanna say big thanks for you guys who left your comment in the previous chapter and I’m sorry because it’s too late to post chapter 3.

Don’t forget to comment because your comment is important for every author. 

Don’t be plagiarism guys!!!

See you in the next chapter..

Advertisements

3 thoughts on “Two People (part 3)

  1. Ah kependekan😞 tp ga papa yang Menting cepet update ya… Ini cerita seru… Please jangan lama-lama update nya. Aku bakal nungguin terus cerita ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s