Our Fate (Oneshoot)

our-fate-short-story

 

Story by Dixsy

Starring :

Im Yoona

Lee Jonghyun

Lee Donghae

**

Hidup itu singkat

Sesingkat kita membalikkan telapak tangan

Disetiap pertemuan, selalu ada perpisahan

Disaat kita bisa menaburkan cinta

Disitu juga kita dapat menaburkan luka

Tapi…

Apa yang lebih menyedihkan dibanding kehilangan?

Dan apakah ada kebahagiaan dibalik kehilangan itu?

Aku tidak tau jika jalan kita sangat berliku

Bahkan dikala kita merasakan genggaman tangan menyatu

Tapi masih ada yang kurang

Yaitu sebuah hati yang sekarang takkan lagi bisa kusinggahi

-Im Yoona-

**

Sore itu di sungai Han, banyak sekali pasangan-pasangan yang menghabiskan waktu mereka untuk menghirup udara sore dan menantikan tenggelamnya matahari. Disana, tepat dipembatas sungai, seorang gadis cantik sedang bergelayut manja di lengan seorang lelaki yang diperkirakan lebih tua dua tahun dari si gadis.

Banyak pasang mata yang iri melihat itu, bukan karena tidak suka. Tidak. Mereka terlalu serasi dan terlihat sangat bahagia. Gadis cantik yang bergelayut manja di lengan kokoh kekasihnya, membuat pejalan kaki lainnya iri melihat adegan mesra itu. Apalagi melihat kerucutan bibir mungil si gadis dan tawa renyah si lelaki. Adakah orang yang tidak iri melihatnya? Oh ayolah.. mereka adalah pasangan yang sangat serasi, seperti para selebritri yang ada di televisi.

“Oppa.. oppa.. lihat itu! Mataharinya sudah mulai tenggelam!” teriak antusias si gadis.

Lelaki yang dipanggil oppa terkejut karena tiba-tiba saja kekasihnya melepaskan tangan dari lengannya. Lelaki itu kemudian melihat kearah tangan kurus gadisnya. Benar, matahari mulai tenggelam dan menampakkan sinar kemerahan, menggantikan cerahnya langit menjadikan warna yang lebih gelap.

Gadis cantik itu melihat kearah kekasihnya. Ia melihat wajah tulus yang ditunjukkan lelaki disampingnya ini. Menurutnya, lelaki ini adalah lelaki paling tampan setelah ayahnya. Lelaki yang selalu mengerti akan dirinya yang selalu bersikap kekanakan.

“Oppa..” panggil gadis cantik ini.

“Ya?”

“Apa kau ingin berjanji padaku, Donghae oppa?” Tanya gadis ini penuh arti.

Lee Donghae. Ya, nama pria yang menjadi kekasih seorang Im Yoona. Lelaki tampan yang pembawaannya selalu berwibawa dan terlihat dewasa dimata gadis bermarga Im ini.

Donghae tersenyum lembut. “Apa yang harus aku janjikan hm?”

Kedua tangan Yoona memegang tangan kiri Donghae, digenggamnya tangan itu seolah penuh pengharapan. Ada sesuatu yang ia ingin dengar dari lelaki didepannya ini. Sebuah janji yang harus dipegang lelaki yang paling dicintainya.

“Kau harus berjanji padaku, jika kau tidak akan pernah meninggalkanku. Arachi?”

Perkataan Yoona barusan membuat Donghae tertawa lepas. Bukankah itu adalah lucu? Tanpa diminta berjanji pun Donghae tidak akan meninggalkan kekasihnya. Ia bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri sejak pertama kali bersama dengan gadisnya.

Im Yoona mengerjapkan mata rusanya. Apakah perkataannya barusan lucu? Mengapa ia malah tertawa. Seharusnya ia membalas perkataannya dengan kata-kata romantis yang dapat meluluhkan Yoona. Kemudian gadis itu mengerucutkan bibirnya dan melepaskan genggamannya di tangan Donghae. Ia merajuk kepada Donghae.

Wajahnya begitu imut sehingga membuat Donghae sangat gemas dan membuat Donghae berhenti tertawa. Kemudian iya mengarahkan badan Yoona menghadapnya dan jarinya mengangkat dagu Yoona dengan lembut serta menatap mata gadisnya.

“Bagaimana aku bisa meninggalkanmu Yoona~ya? Bahkan jika seribu orang menyuruhku meninggalkanmu, aku lebih baik mati.” Donghae menghela nafasnya sejenak, “Dengar Yoona~ya, kau adalah kebahagiaanku. Jika aku pergi meninggalkanmu suatu hari nanti, itu karena Tuhan yang meminta, bukan karena aku yang ingin,” lanjutnya.

Yoona memandang mata Donghae lebih dalam, “Oppa.. bagaimana jika suatu hari itu terjadi, kau akan meninggalaknku?”

“Tuhan akan mengirim seseorang untuk mendampingimu jika suatu hari nanti aku pergi. Dan aku,” perkataan Donghae berhenti sejenak. “Aku akan mengirimkan adikku untuk menjagamu,” senyuman jahil Donghae menghiasi wajah pria itu.

“Yakkkk oppaaa!! Kenapa kau harus mengirim si mata panda itu?” omel Yoona.

Donghae berlari dan Yoona mengejarnya seperti adegan roman picisan di televisi bukan? Tetapi apa yang akan dilakukan mereka jika suatu hari Tuhan akan memisahkan mereka dan mengirimkan seorang lelaki yang akan menggantikan Donghae untuk menjaga Im Yoona?

^^

Hari minggu adalah waktu bersantai untuk Tuan Muda Lee. Anak kedua dari Lee bersaudara ini selalu menghabiskan hari minggunya untuk bersantai didepan televisi sambil menonton cartoon kesukaannya.

Sebut saja Lee Jonghyun. Adik dari Lee Donghae ini sedang tertawa terbahak-bahak melihat hal yang lucu dari cartoon yang ditontonnya. Tapi tawanya berhenti seketika dan wajahnya berganti ekspresi menjadi wajah kesal. Apa yang menyebabkannya kesal? Tentu saja itu semua karena ulah Im Yoona yang menurut Jonghyun adalah pengacau hidupnya. Gadis itu mematikan televisi, padahal hari ini adalah waktunya Jonghyun menonton tv sepuas yang ia mau.

“Haish apa yang kau lakukan Im?” Tanya lelaki itu sebal.

Yoona dengan wajah polosnya ia hanya menggelengkan kepalanya, seolah-olah apa yang diperbuatnya bukanlah kesalahan besar. “Ani.. aku hanya mematikan tv saja.”

“Ck. Untuk apa kau kesini? Jika tujuanmu untuk menemui hyung, dia ada di taman belakang,” Jonghyun memutar matanya gemas.

Bagaimana tidak? Aku yakin kau akan sebal juga jika hari minggumu dirusak oleh gadis pengacau seperti Yoona. Itulah yang Jonghyun pikirkan saat ini.

“Ani.. aku ingin disini bersamamu,” jawab Yoona dengan entengnya.

Jonghyun semakin gemas dengan gadis ini, “Jika kau disini, hyung akan berpikir jika kau mulai terpesona denganku dan akan meninggalkannya.”

Tiba-tiba saja sebuah jitakan bertengger dikepalanya. Siapa lagi yang berani kalau bukan Lee Donghae, kakaknya sendiri. Kakak yang selalu dihargai oleh Lee Jonghyun, walaupun terkadang mereka melakukan hal yang dilakukan oleh kakak beradik. Bertengkar karena hal yang sepele.

“Apa yang kau katakan barusan hm?” Tanya Donghae kepada adiknya.

Jonghyun meringis sambil mengelus kepalanya yang terasa nyeri. “Apa yang kau lakukan barusan? Cih.. teganya kau pada adikmu sendiri.”

Donghae tertawa renyah melihat wajah sebal adiknya. “Itu hukuman karena kau dengan beraninya menggoda gadisku, anak nakal,” tangan Donghae kini merangkul Yoona yang sedari tadi terbahak-bahak melihat Jonghyun yang disiksa oleh kekasihnya. “Kajja, kita pergi dan meninggalkan Tuan Muda Lee Jonghyun ini untuk bersenang-senang dengan televisi kesayangannya.”

Wajah Yoona beralih kepada Jonghyun. Gadis itu memberikan raut wajah mengejek. “Selamat bersenang-senang Tuan Muda Lee,” katanya sambil menjulurkan lidah, mengejek seorang Lee Jonghyun.

Masih dengan tampang sebalnya, Jonghyun melihat punggung hyung dan juga teman masa kecilnya yang mulai menghilang dari pandangannya. Raut wajahnya seketika berubah menampilkan kesedihan.

Adakah pertanyaan apakah Lee Jonghyun merasa iri kepada hyungnya? Jika ada, Jonghyun akan membenarkan pertanyaan itu. Ia sangatlah iri kepada Donghae. Dari segi sifat hingga kehidupan Donghae, baginya Donghae sangatlah sempurna. Hyungnya itu menjadi anak kebanggaan ayahnya dan juga menjadi laki-laki yang ada di hati wanita yang disukainya. Ya, benar. Jonghyun mengartikan kesempurnaan seorang Lee Donghae seperti itu.

Sedari kecil, ayahnya selalu bangga terhadap Donghae dan selalu mengandalkan segala sesuatu kepada Donghae, sementara dia? Dia hanyalah anak yang sering membangkang ayahnya, tetapi dia masih bersyukur mempunyai ibu yang sangat amat menyayanginya.

Lalu bagaimana dengan Yoona? Sejak pertama kali Jonghyun mengenal wanita itu, ia tidak pernah melepas pandangannya. Yoona selalu berada dalam pengawasannya sejak mereka duduk dibangku sekolah menengah pertama. Hanya saja kesan Jonghyun dimata Yoona adalah anak nakal yang selalu mengganggunya, padahal Jonghyun hanya ingin berusaha mendapat perhatian Yoona. Sampai suatu ketika ia menyadari jika Donghae mengenal Yoona dan hyungnya itu mempunyai perasaan yang lebih terhadap gadis itu. Bahkan Donghae meminta Jonghyun untuk mendekatkan dirinya dengan Yoona. Mau tidak mau, Jonghyun menuruti permintaan hyungnya itu.

Sejak saat itu, Jonghyun mulai menjauhi Yoona. Ia mulai bersikap acuh terhadap gadis yang merupakan cinta pertamanya, tetapi menjauhi Yoona sangat sulit dibanding yang ia perkirakan. Seberapa pun jarak ia menjauhi gadis itu, gadis itu selalu ada. Terlalu semu untuk menggapai seorang Im Yoona. Kali ini Jonghyun benar-benar mengikhlaskan gadis itu untuk hyungnya.

^^

Hari demi hari, kisah cinta Donghae dan Yoona semakin berkembang hingga tepat pada hari itu seorang Lee Donghae menyatakan lamarannya kepada gadisnya. Deburan ombak dan cahaya rembulan menjadi saksi lamaran Donghae. Ya, malam itu Donghae sudah menyiapkan segalanya untuk melamar gadisnya. Disebuah pantai yang dihias dengan nuansa yang sangat romantis menurut Yoona.

“Aku hanya akan bertanya kepadamu sekali Nona Im. Apakah kau bersedia menjadi pendamping hidupku Yoona~ya?” tanya Donghae dengan wajah pengharapannya. Ah.. lelaki itu juga telah menyiapkan sebuah cincin yang akan dikenakannya di jemari Yoona jika gadis itu menerima lamarannya.

Yoona dengan wajah bahagia dan mata rusa yang berkaca-kacanya menjawab, “Apakah aku bisa menolak pesonamu Tuan Lee Donghae? Tentu saja aku akan menjadi pendamping hidupmu,” kata gadis itu penuh dengan keyakinan.

Menurut Yoona inilah awal kebahagiaan yang selama ini ia idam-idamkan. Dilamar oleh seorang pangeran berkuda putih yang sangat baik hati. Pria yang selalu sabar mengahadapi sikap kekanakannya. Pria yang selalu ada dalam keadaan apapun yang ia lewati. Dan pria yang selalu mencintainya. Yoona sangatlah berterimakasih kepada Tuhan karena telah memberikan Lee Donghae di hidupnya.

Begitu pun dengan Donghae, ia sangat amat bahagia mendengar jawaban dari kekasihnya yang bahkan akan menjadi calon istrinya. Kemudian lelaki itu memeluk Yoona dengan sangat erat.

“Aku mencintaimu Nona Im, bahkan aku lebih mencintaimu daripada aku mencintai diriku sendiri.”

Yoona tersenyum senang, “Aku juga Tuan Lee, sangat amat mencintaimu.”

^^

Dua minggu setelah Donghae meminta Yoona untuk menjadi istrinya, mereka disibukkan dengan persiapan pernikahan yang akan segera mereka gelar. Dan apa yang dilakukan oleh Jonghyun? Tentu saja ia membantu kakaknya dan calon kakak iparnya. Sebenarnya hal itu mengganggu perasaan Jonghyun, ia begitu terkejut ketika Donghae mengatakan akan menikahi Yoona. Kali ini, lelaki itu sangat bingung tentang perasaannya dan kebahagiaan kedua orang yang sangat disayanginya. Ingin sekali saja ia mengatakan perasaannya kepada Yoona dan merebut gadis itu dari kakaknya, tapi ia tidak ingin menjadi orang jahat.

“Jonghyun~ah..” panggil Donghae ketika melihat Jonghyun yang sedang duduk disofa kamarnya sambil memetik gitar.

Jonghyun menolehkan kepalanya kearah dimana terdapat Donghae yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyuman yang membuat hati siapapun akan merasa tenang. “Wae?” jawabnya santai.

Donghae masuk ke dalam kamarnya, lalu duduk disebelah tepat dimana ia duduk. Lelaki itu memandangi adik semata wayangnya. Lee Jonghyun kecil sangat berbeda dengan yang sekarang. Dulu, Jonghyun kecil selalu mengikuti kemanapun Donghae pergi. Bahkan ketika ia hanya ke kamar mandi, anak itu pun mengikutinya. Tapi sekarang Jonghyun yang ada dihadapannya bukanlah Jonghyun yang dulu, bukan Jonghyun yang penakut ataupun bukan Jonghyun penurut. Jonghyun adiknya yang sekarang adalah Jonghyun yang sangat pemberani dan bisa menjadi dirinya sendiri. Ia bahkan bisa menutupi semua luka di dalam hatinya.

Donghae tahu bahwa selama ini Jonghyun disisihkan oleh ayah mereka karena menurut Tuan Lee, Jonghyun tidak dapat diandalkan seperti dirinya. Dan soal perasaan Jonghyun terhadap gadisnya, ia juga tahu. Sangat tahu. Ia tahu bahwa adiknya itu sangat menyukai kekasihnya. Bukan. Bukan hanya menyukai tapi lebih kepada mencintai.

Ia terlalu egois sehingga merebut Yoona dari Jonghyun. Ia terlalu kejam kepada Jonghyun, ia terlalu bersalah kepada adiknya. Pernikahannya dengan Yoona akan diselenggarakan seminggu lagi. Bodohnya ia kembali menyakiti pria yang terlihat kuat diluarnya itu dengan meminta bantuannya untuk mempersiapkan segala sesuatu. Biarlah untuk kali ini ia menyakitinya, ia berjanji ini yang terakhir kalinya.

Jonghyun masih menatap kearah kakaknya itu dengan tatapan bertanya-tanya. “Hyung, waeyo?”

Donghae tersadar dari lamunannya. “Aku ingin meminta bantuanmu,” katanya sambil tersenyum hangat, seperti biasanya.

Jonghyun hanya menghela napasnya, “Bantuan untuk pernikahanmu?” satu alisnya mengangkat, “Arra. Aku akan memantumu. Kali ini bantuan apa lagi? Mencarikan pelayan yang akan tinggal bersama kalian nanti? Atau…”

“Tidak, tidak.” Pria itu menggelengkan kepalanya, “Jonghyun~ah bisakah kau menggantikanku untuk fitting baju pengantinku dan Yoona, maksudku kau dan Yoona yang akan mencobanya,” lanjut pria itu.

Kening Jonghyun mengerut seketika. Menurutnya ini adalah hal konyol yang kesekian kalinya yang diminta oleh Donghae. Yang pertama adalah ketika kakaknya itu menyuruhnya untuk mengantar Yoona membili sepasang cincin pernikahan, lalu memilih wedding organizer, dan sekarang?

“Tuan Muda Lee yang terhormat, ini adalah acara pernikahanmu bukan pernikahanku. Jadi yang seharusnya melakukan fitting baju itu adalah kau, bukan aku,” ucap Jonghyun yang sedikit kesal. Ia berpikir Yoona pasti akan kecewa jika Donghae sama sekali tidak mengurus pernikahan mereka.

“Tuan Muda Lee, adikku, besok ayah menyuruhku ke Hokkaido untuk mengurus beberapa berkas disana hingga lusa. Dan aku tidak bisa mencoba tuxedo pernikahanku dengan Yoona. Jadi tolonglah aku,” wajah Donghae memelas dan kemudian membuat Jonghyun menghela nafasnya dengan berat hati.

“Baiklah, baiklah. Tapi kau harus segera kembali agar calon istrimu tidak kecewa. Arra?”

Donghae pun tersenyum. Dan malam itu untuk yang terakhir kalinya mereka melakukan perbincangan sepanjang malam. Membahas tentang semuanya yang menyangkut masa kecil mereka. Dua orang kakak beradik itu sama-sama bernostalgia dan tertawa bersama.

^^

Siang itu Yoona dan Jonghyun sudah menuju ke butik dimana Yoona memesan gaun pengantinnya. Sebenarnya gadis itu sangat keberatan ketika Donghae mengatakan jika Jonghyun yang akan menggantikannya untuk fitting baju, tapi apa boleh buat lagipula ukuran pakaian Jonghyun sama dengan ukuran pakaian calon suaminya. Pernikahan mereka tinggal beberapa hari lagi dan Yoona tidak boleh egois karena Donghae sedang sibuk-sibuknya juga dengan perusahaan ayahnya.

“Apa Donghae sudah mengabarimu?” Tanya Jonghyun yang sedang menyetir.

Yoona menggelengkan kepalanya, “Belum.”

Jonghyun mendesah lalu memarkirkan mobilnya karena mereka sudah sampai tujuan. Kemudian mereka berdua turun dari mobil dan segera masuk kedalam butik.

Di dalam seorang gadis cantik menyambut mereka dengan senyuman. Gadis itu, Choi Sooyoung adalah sahabat Yoona sejak sekolah menengah atas dulu yang berarti juga merupakan teman sekolah Jonghyun.

“Wow lihat siapa yang datang! Im Yoona dengan musuh bebuyutannya,” begitulah Sooyoung menyebut Jonghyun karena memang sedari dulu Yoona dan Jonghyun tidak pernah akur.

“Cih.. bahkan sebentar lagi ia akan menjadi adik iparku,” ujar gadis cantik itu.

Jonghyun hanya tersenyum miris. Ia tidak pernah berharap Yoona menjadi kakak iparnya, ia ingin berharap lebih tapi itu akan menyakiti kakak kandungnya sendiri.

“Sudahlah Choi cepat kau bawakan gaun pengantinnya kemari sebelum kakakku marah karena terlalu lama membawa calon pengantinnya keluar.”

Sooyoung mendengus mendengar perkataan ketus dari Jonghyun, ia membentuk sebuah kerucut di bibirnya. “Arraseo Tuan Muda Lee,” gadis itu beralih kepada Yoona yang sedari tadi tertawa renyah karena sikap Jonghyun dan Sooyoung. “Ayo calon Nyonya Lee, kau harus mencoba gaun pengantinmu,” Sooyoung membawa Yoona kedalam ruang ganti.

Beberapa menit Jonghyun menunggu gadis itu. Berkali ia melihat jam ditangannya, dan ia menunggu panggilan dari Donghae untuk menanyakan kabar gadisnya. Tapi ketika dia berusaha menghubungi kakaknya itu, tiba-tiba Yoona muncul dengan gaun yang pas di tubuhnya. Tidak ada cacat sedikitpun, bisa dibilang Yoona bak seorang dewi yang menjelma menjadi seorang manusia. Ia terpesona. Bahkan jantungnya berdetak sangat cepat hingga handphone yang ada ditangannya hampir saja terjatuh jika ia masih pada imajinasinya.

“Hey Tuan Muda Lee! Bagaimana calon kakak iparmu? Dia benar-benar cantik kan?”

Suara Sooyoung menggema dengan jelas sehingga membubarkan semua isi pikiran yang ada dikepalanya. “Ye?”

“Aish namja ini! Ah aku tahu, kau pasti sangat terpesona dengan calon kakak iparmu kan? Aku benar kan?”

Jonghyun hanya menatapnya sinis, “Cih, percaya diri sekali kau dengan pertanyaanmu. Dimana tuxedo Donghae hyung? Aku ingin mencobanya,” ujar lelaki itu mengalihkan pembicaraan.

“Aish kau benar-benar menyebalkan Lee Jonghyun! Kau tidak pernah berubah ternyata. Tuxedo kakakmu ada di ruang ganti, cepat pakai dan segera kemari!” Perintah Sooyoung.

Tanpa kata-kata pria itu segera masuk keruang ganti dan menghilang dari pandangan Sooyoung maupun Yoona. Pandangan Sooyoung segera beralih kepada Yoona.

“Nona Im, apa kau benar-benar tidak mempunyai perasaan lagi kepadanya? Setelah kulihat-lihat ia semakin tampan dan mempesona, ya walaupun sangat mengesalkan.”

Yoona hanya menghela nafasnya berat, “Aku sudah memilih kakaknya Choi, lagipula sedari dulu ia tidak pernah terlihat tertarik denganku.”

“Tapi Yoona~ya aku… aku merasa Jonghyun sangat perhatian padamu, bahkan sekarang dia rela menemanimu untuk fitting baju. Padahal yang akan menikah kan kau dan kakaknya,” ujar Sooyoung.

“Molla… mungkin karena dia tidak enak kepada kakaknya.”

Beberapa saat kemudian Jonghyun kembali dengan tuxedo yang warnanya senada dengan gaun pernikahan Yoona. Tuxedo itu benar-benar pas dikenakan oleh Jonghyun.

“Bagaimana? Ukuran pakaianku dan hyung sama.”

Yoona tersenyum, ia benar-benar terpesona dengan ketampanan seorang Lee Jonghyun. Gadis itu membayangkan jika seandainya yang nanti akan berdiri dialtar bersama dengannya adalah pria yang kini memakai tuxedo yang warnanya serupa dengan gaun yang ia kenakan.

Sebenarnya Yoona dulu pernah menyukai Jonghyun hanya saja ia menganggap cintanya bertepuk sebelah tangan karena Jonghyun tidak pernah menunjukkan tanda-tanda yang sama dengan perasaannya. Hingga suatu hari pria itu mengenalkan kakaknya kepada Yoona, semenjak saat itu ia merasa Jonghyun mulai menghindarinya tidak seperti biasa saat mereka bertengkar atau pun semacamnya.

“Baiklah aku akan menyimpan baju ini sampai pernikahanmu tiba Nona Im,” ujar Sooyoung yang membuyarkan pikirannya.

^^

Disini Jonghyun dan Yoona sekarang, berada di sebuah kedai ramen dekat sekolah mereka dulu. Kedai yang hanya buka pada sore hari itu kini mulai berubah seiring berjalannya tahun. Dulu kedai yang hanya dibuka disebuah mobil, kini berubah menjadi sebuah bangunan kokoh yang walaupun belum bisa menyaingi restaurant mahal. Tapi makanan yang disajikan oleh kedai ramen ini mempunyai cita rasa yang berbeda.

Ahjumma pemilik kedai itu pun menyapa mereka dengan hangat. “Ah rupanya kalian, ku lihat semenjak setelah upacara kelulusan kalian jarang sekali datang kesini?” kata Ahjumma yang sedang membersihkan meja dimana kini Yoona dan Jonghyun duduki. Keadaan di kedai itu sangat ramai sehingga mereka tidak bisa langsung memesannya.

“Nde ahjumma, kami mempunyai pekerjaan masing-masing sehingga tidak sempat untuk mengunjugi kedai ini,” saut Jonghyun dengan senyumannya yang memperlihatkan lesung pipi yang sangat indah.

“Arraseo,” ahjumma mengangguk-anggukkan kepalanya seraya mengerti dengan kesibukan mereka. Lalu ia tersenyum kecil, “Apakah kalian sudah menikah? Woah sepertinya kalian memang sudah menikah. Dulu kalian terlihat sangat cocok sekali.”

Yoona dengan refleks menggeleng-gelengkan kepalanya, “Anio ahjumma! Kami tidak seperti itu,” Yoona menundukkan kepalanya, pipinya bersemu merah dan Jonghyun bisa melihat itu.

“Bahkan gadis yang ada disampingku kini sudah menjadi calon istri orang lain ahjumma,” Jonghyun terkekeh melihat ahjumma kedai itu yang tak percaya.

“Jinjjayo!? Woah daebak.. Apa kau kalah telat dengan laki-laki yang melamarnya?”

Jonghyun tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. Terlihat raut kecewa dari wajahnya. “Ya, mungkin aku kalah telat dari hyungku..”

Seketika Yoona menoleh kearah Jonghyun, ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh lelaki itu. Ia bisa melihatnya, melihat sesuatu yang disembunyikan oleh Jonghyun selama ini dari raut wajah yang kini ditampilkan oleh pemuda itu. Ia sadar betul jika ada maksud lain dari perkataan pemuda yang duduk didepannya kini. Walaupun pemuda itu kini sedang asik berbincang dengan ahjumma pemilik kedai hingga mereka lupa untuk memesan makanan, tapi ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Mungkin nanti.

^^

Keheningan tercipta di dalam mobil yang kini mereka tumpangi. Jonghyun sedang fokus untuk menyetir, sedangkan Yoona masih sibuk dengan pikirannya. Jonghyun menghela nafasnya berat. “Ada yang ingin kau tanyakan Nona Im?” Pemuda itu menolehkan kepalanya untuk melihat Yoona.

Yoona tersadar dari lamunannya, “Eoh? I..itu..”

Sekali lagi laki-laki itu menghela nafasnya berat. “Aku tau kau masih memikirkan perkataanku tadi. Saranku jangan memikirkannya,” Jonghyun mengembalikan kefokusannya pada jalanan depan.

“Jonghyun~ah..”

“Hmm?”

“Pernahkah kau berpikir jika kau menyukaiku?” pertanyaan itu tiba-tiba saja lolos dari mulut Yoona dan ia tidak berniat untuk mengendalikannya.

Hati Jonghyun bergetar mendengar pertanyaan itu. Mulutnya terdiam tapi hati pemuda itu berbicara. Ya, aku pernah Yoona bahkan sebelum hyung menyukaimu aku sangat sangat mencintaimu, batinnya berbisik. Lelaki itu tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. “Anio. Aku tidak suka perempuan berbadan rata sepertimu,” cibirnya sambil menoleh kearah Yoona dan kemudian ia terkekeh melihat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

“Cih.. dasar lelaki mesum!”

Hening kembali menghiasi mobil yang mereka tumpangi. Yoona menoleh seketika kearah Jonghyun. “Jonghyun~ah..”

“Hmm?”

“Aku ingin berbagi sesuatu denganmu,” kata Yoona dengan nada sehalus mungkin bahkan hampir tidak terdengar dengan jelas oleh Jonghyun.

“Apa? Katakan saja, aku akan mendengarnya.”

Yoona menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tidak disini. Aku ingin kau mendengarkan ceritaku sambil menemaniku minum.”

Jonghyun mengangguk. “Baiklah, tapi kau harus izin calon suamimu dulu Im, aku tidak mau dimarahinya karena membawa pulang calon istrinya dalam keadaan mabuk.”

“Nde..” gadis itu tersenyum kemudian mencari ponselnya.

Sebenarnya Yoona tidak benar-benar mengabari Donghae jika ingin minum dengan calon adik iparnya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu kali ini, ia hanya ingin mencoba mengungkapkan seluruh perasaannya kepada Jonghyun walaupun nantinya ia tau bahwa Jonghyun tidak akan memperjuangkannya. Dan jika seandainya Jonghyun akan memperjuangkannya, itu akan membuat Donghae terluka dan hubungan kakak-adik antara Donghae dan Jonghyun akan hancur.

^^

Entah sudah berapa botol yang sudah mereka habiskan. Tapi Jonghyun masih dibawah kesadarannya, dan ia melihat Yoona yang sudah menggeletakkan kepalanya diatas meja. Pria itu tersenyum miris karena sebentar lagi gadis cantik yang menjadi pujaannya akan benar-benar menikah dengan kakaknya. Apa yang harus ia lakukan? Bahkan ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, hanya bisa memandang gadis ini dengan baik hingga saatnya ia harus pergi dari kehidupan cintanya yang benar-benar menyesakkan.

Ia merasakan dingin benar-benar menyengat pipinya, kemudian ia melihat gadis yang tidak sadarkan diri ini juga merasakannya. Dilepasnya jaket yang sedari tadi melekat di tubuhnya dan memasangkan jaket itu ke tubuh Yoona, hanya sekedar menyelimuti tubuh gadis itu sebenarnya.

Jonghyun mulai berjalan kearah pemilik kedai soju di pinggiran sungai Han ini untuk membayar soju yang telah ia habiskan bersama Yoona. Kemudian ia mencoba mengangkat badan Yoona tapi ternyata gadis itu sudah terbangun dari tidurnya, walaupun masih dalam kondisi mabuk.

“Eoh? Kau sudah membayarnya?” tanya Yoona dengan nada orang mabuk.

“Eum. Ayo kuantar kau pulang,” kata Jonghyun sambil memapah tubuh kurus gadis itu.

Mereka berjalan sepanjang sungai Han menuju kearah dimana mobil Jonghyun terparkir, di seberang jalan sungai ini lebih tepatnya. Dan sedari tadi Yoona mengoceh tak jelas, tetapi Jonghyun hanya bergeming menyaut sekenanya.

“Lee Jonghyun.. aku ingin menceritakan sesuatu yang pasti akan membuatmu terkejut,” oceh Yoona kembali sambil terkekeh kecil.

“Hmm. Ceritalah.”

Gadis itu menghentikan langkahnya, tepat dipinggir jalan saat mereka akan menyebrang. “Jonghyun~ah..”

Jonghyun menghadapkan badannya kearah Yoona. Ia melihat raut kesedihan dari gadis itu. “Waeyo, Yoona?”

“Aku mencintaimu.”

DEG.

Jonghyun merasa jantungnya kini berhenti. Pemuda itu berpikir jika ia hanya berhalusinasi semata dengan apa yang Yoona katakana, mungkin pengaruh dari soju yang tadi ia minum. Atau mungkin juga Yoona yang sedang mabuk sedang mengoceh tak jelas. Ia terkekeh untuk meladeni ucapan gadis itu.

Mata Yoona mulai berkaca-kaca melihat tanggapan dari Jonghyun.

“Kau hanya mabuk Im Yoona. Ayo kuantar kau pulang sebelum hyung menelfonku dan memarahiku,” ia mulai menggenggam tangan Yoona tapi disentak oleh gadis itu.

“Tidak, Jonghyun! Aku tidak sedang mabuk. Aku mencintaimu! Benar-benar mencintaimu hingga rasanya sangat menyiksa,” mata tegas gadis itu menatap mata Jonghyun yang benar-benar terkejut dengan pengakuan tersebut. “Lee Jonghyun.. aku mencintaimu sangat mencintaimu. Donghae.. pria itu yang membuatku sadar jika sebenarnya hanya dirimu yang ada dihatiku,” ia meneteskan air matanya.

“Yoona~ya..”

“Tunggu! Aku belum selesai bicara. Aku menyayangi Donghae tapi bukan mencintainya karena yang aku cintai hanyalah dirimu bukan dia. Aku menerimanya karena aku tidak mau menyakitinya, tapi justru itu menyakiti diriku sendiri,” gadis itu benar-benar menangis. Jonghyun bisa melihat dari tatapan mata gadis yang ia cintai itu bahwa rasanya sangatlah sakit sama seperti yang ia rasakan. “Jonghyun~ah.. aku tau jika kau juga merasakan hal yang sama denganku. Tatapanmu padaku sama seperti Donghae menatapku. Ku mohon, perjuangkanlah aku..”

Jonghyun masih dalam diamnya. Ia tidak tau apa yang kini harus dilakukannya. Jika Yoona menjadi kakak iparnya, apa yang harus ia lakukan untuk memandang gadis itu. Tapi jika ia memperjuangkan cintanya untuk Yoona, ia tidak tau bagaimana ujung dari persaudaraannya dengan Donghae atau bahkan pandangan ayahnya terhadap dirinya.

“Yoona.. maaf aku tidak bisa,” pria itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Aku memang mencintaimu Yoong, tapi hyung adalah seseorang yang tak kalah berharganya denganmu. Jika kau memilihku, hyung akan berkali-kali lipat kehilangan kau ataupun aku. Tapi jika aku yang berkorban, aku akan melihat kebahagiaan kalian dialtar nanti.”

Yoona menangis sangat pilu, ia menekan dadanya yang terasa sakit. Sangat perih. Bahkan ia susah untuk bernapas kali ini.

“Berbahagialah dengannya Yoong,” Jonghyun hanya bisa tersenyum pilu. Kenapa baru sekarang ia mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan Yoona, tapi gadis itu sudah milik orang lain. Ia sangat yakin jika kini takdir sedang menertawakannya.

Yoona masih menangis dengan sangat terisak bahkan matanya tidak bisa melihat Jonghyun dengan jelas. Jonghyun menangkup pipi gadis itu kemudian ia mendekatkan wajahnya dengan Yoona. Hanya sekali ini ia menghianati hyungnya sebelum ia benar-benar akan kehilangan gadis cantik itu. Jonghyun hanya menempelkan bibirnya di bibir Yoona, tidak lebih. Keduanya sama-sama memejamkan mata mereka. Saling merasakan kepedihan yang tertahan. Sampai akhirnya Yoona tersadar dan mendorong dada Jonghyun hingga menjauh. Gadis itu masih terisak dan kemudian berlari kearah sebrang jalan.

Dari jauh terlihat cahaya lampu sebuah mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi mulai mendekat. Disitu Jonghyun menyadarinya dan ia melihat Yoona yang berhenti ditengah jalan sambil menatap kearahnya. Gadis itu masih belum menyadari jika ada mobil yang mungkin bisa menabraknya. Jonghyun berlari dengan kencang sebelum mobil itu benar-benar menabrak Yoona. Tapi naasnya tubuhnya yang terpelanting sangat jauh setelah ia berhasil mendorong Yoona ke tepian walaupun kepala gadis itu terbentur trotoar yang menyebabkan kesadarannya hilang.

Jonghyun hanya bisa memandang tubuh gadis yang ia cintai dengan senyuman. Mungkin ini adalah terakhir kalinya ia bisa melihat wajah gadis vcantik yang menjadi dambaannya selama ini. Ia hanya ingin gadis itu bahagia selanjutnya. Dan Tuhan pasti punya cara lain untuk membuatnya bahagia, bahkan ia berharap jika dikehidupan selanjutnya ia ingin selalu berada di samping Yoona. Jonghyun mulai memejamkan matanya saat kerumunan orang menghampirinya. Dalam bayangannya ia mencium kening Yoona dialtar dan kemudian semua terasa lebih gelap dan enteng.

**

Apapun yang terjadi,

Aku akan selalu memantaumu dari jauh

Kebahagiaanmu akan selalu menjadi kebahagiaanku

Jika suatu hari Tuhan memberikanku kesempatan untuk hidup kembali

Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu

Aku akan selalu ada disampingmu

Walaupun dunia melarangnya

Dan takdir tidak merestuinya

Aku..

Lee Jonghyun

Akan tetap memperjuangkan seorang Im Yoona

-Lee Jonghyun-

 

FIN

Ini adalah ff oneshoot pertamaku guys. So, aku harap kalian suka dan aku mau minta maaf kalo ceritanya nggak nyambung dan endingnya ga jelas. Nah oleh karna itu aku minta kalian buat komen, apapun komentar kalian aku tampung dan bisa dijadiin referensi buat next ff yang bakal aku buat. Makasih juga buat kalian yang udah nyempetin baca.. 🙂

Advertisements

11 thoughts on “Our Fate (Oneshoot)

  1. Oooooh kirain berakhir Yoona Jonghyun….ternyata Jonghyunnya yg meninggal.Eeeerrrr….menutup mata meninggal atau pingsan(berharap hnya pingsan)…..sad ending.

  2. Awalnya ngura klo nanti d akhir donghae yg bkal meninggal, soalnya diliat dri prtanyaan yoona d awal ff kayak mengarah kesana. Tp ternyata diluar perkiraan, malah jonghyunnya yg meninggal. Dia udh banyak berkorban, bhkan sampe meninggal 😢

    Bolehkah mnta sequelnya, authornim? 😅

  3. Awalnya ngira klo nanti d akhir donghae yg bkal meninggal, soalnya diliat dri prtanyaan yoona d awal ff kayak mengarah kesana. Tp ternyata diluar perkiraan, malah jonghyunnya yg meninggal. Dia udh banyak berkorban, bhkan sampe meninggal 😢

    Bolehkah mnta sequelnya, authornim? 😅

  4. Wah endingnya ga disangka2.. awalnya ngira bakal berakhir dgn jonghyun yoona..eh ternyata malah jonghyun yg meninggal..bener2 ga diduga..
    Ditunggu ff yoona lainnya ya thor..

  5. Aq kira ending nya sama jonghyun,soalnya kan sebnarnya mereka sudah sama2 suka dari mereka sekolah walaupun mereka tak bisa mengungkapkan perasaan mereka masing2 ,
    Salah tebak aq..hehe..

  6. Seq dong…
    meskipun kata kata yg terakhir seperti johyun yg mati tapi blom di jelasin dia mati.. ayo dong happy end.. saama johyun ya sedih bget jadi johyu n n yoona

  7. Dikira Ending nya Yoona sama Jonghyun eh malah Jonghyun meninggal,- sedihhh…

    Please yang ” Two People” lanjutan sampe abis dan ending ya yYoona sama Jonghyun jadi sepasang suami istri yang bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s